Tugas mandiri 04
Merawat Integrasi Nasional di Komplek Melati: Pelajaran dari Interaksi Warga dan Dinamika Ruang Digital
Selama dua minggu terakhir, saya memilih Komplek Melati—tempat tinggal saya sendiri—sebagai lokasi observasi untuk memahami dinamika integrasi nasional pada tingkat akar rumput. Komplek kecil ini dihuni sekitar 50 keluarga dengan latar belakang suku, agama, pekerjaan, dan rentang usia yang cukup beragam. Saya memilih lokasi ini karena suasana sosialnya merepresentasikan kehidupan keseharian masyarakat Indonesia: beragam tetapi saling berdekatan secara fisik. Tujuan observasi ini adalah melihat bagaimana nilai integrasi nasional diwujudkan, dipraktikkan, atau bahkan diuji dalam interaksi warga sehari-hari.
Selama observasi, saya menemukan berbagai bentuk interaksi positif yang memperkuat persatuan warga. Setiap hari Minggu pertama dalam bulan, warga komplek mengadakan kerja bakti membersihkan taman dan saluran air. Kegiatan ini dipimpin secara bergantian oleh Pak Dani (Muslim) dan Pak Nico (Kristen), yang selalu memastikan semua warga terlibat tanpa memandang latar belakang. Ibu Yunita, seorang warga keturunan Tionghoa, sering membawa teh hangat untuk para peserta kerja bakti, sementara beberapa remaja juga terlihat antusias membantu menyapu jalan atau mengangkut sampah. Selain itu, saat umat Hindu merayakan Galungan, keluarga Wayan membagikan jajanan tradisional kepada beberapa tetangga, dan warga lain membalasnya ketika Idulfitri tiba—sebuah bentuk pertukaran simbolik yang memperkuat rasa kebersamaan. Di luar itu, ruang digital juga menjadi wadah interaksi positif: grup WhatsApp warga sering digunakan untuk berbagi informasi keamanan, donasi, dan kegiatan sosial seperti penggalangan dana bagi tetangga yang sakit.
Namun, observasi juga menunjukkan bahwa integrasi tidak selalu berjalan mulus. Dalam grup WhatsApp yang sama, sempat terjadi ketegangan ketika salah satu warga membagikan konten politik menjelang pemilihan kepala daerah. Komentar-komentar bernada sinis mengenai perbedaan pilihan politik membuat suasana memanas, hingga ketua RT terpaksa mengingatkan warga agar menjaga etika komunikasi. Selain itu, saya mengamati bahwa remaja yang tinggal di komplek cenderung membentuk kelompok berdasarkan kesamaan latar belakang, seperti asal daerah atau jenis sekolah. Mereka jarang bercampur dalam aktivitas sosial, sehingga interaksi lintas kelompok usia muda menjadi terbatas. Di tingkat warga dewasa, saya melihat adanya kecenderungan eksklusivisme pada kelompok bapak-bapak yang rutin bermain domino; anggota baru sulit diterima jika tidak berasal dari lingkar pertemanan yang sama.
Fenomena-fenomena tersebut saya analisis menggunakan konsep integrasi nasional sebagaimana dibahas dalam teori Myron Weiner. Interaksi positif seperti kerja bakti, tukar-menukar makanan saat hari besar keagamaan, serta kepemimpinan inklusif ketua RT mencerminkan integrasi horizontal—relasi yang harmonis dan setara antarkelompok masyarakat. Praktik-praktik ini memperkuat kohesi sosial karena dibangun melalui interaksi rutin, kepentingan bersama (kebersihan, keamanan), dan kedekatan emosional. Sementara itu, ketegangan di grup WhatsApp menunjukkan bagaimana polarisasi politik sebagaimana diidentifikasi dalam penelitian LIPI (2020) dapat merembes hingga ke tingkat paling kecil dalam masyarakat. Akar masalahnya bukan hanya perbedaan pandangan politik, tetapi juga kurangnya literasi digital dan rendahnya kemampuan warga mengelola perbedaan pendapat secara konstruktif. Adapun eksklusivisme remaja dan kelompok aktivitas tertentu dapat dijelaskan melalui teori identitas sosial—manusia cenderung mencari kenyamanan dalam kelompok yang "mirip", tetapi hal ini dalam jangka panjang dapat menghambat integrasi.
Dari observasi ini, saya menyadari bahwa saya selama ini lebih sering berperan sebagai penonton dalam dinamika sosial di lingkungan tempat tinggal saya. Padahal, sebagai bagian dari generasi muda yang lebih terbiasa dengan teknologi dan komunikasi, saya memiliki kesempatan untuk memberi kontribusi kecil namun berarti. Saya belajar bahwa integrasi nasional bukanlah konsep besar yang hanya dibahas di ruang kuliah; ia hadir dalam cara kita menyapa tetangga, memilih kata-kata di ruang digital, hingga bersedia menjembatani perbedaan. Saya juga menyadari bahwa toleransi bukan hanya tentang menerima keberagaman, tetapi juga aktif membangun ruang agar keberagaman itu bisa berkembang secara positif.
Sebagai generasi muda, saya melihat peran saya bukan sekadar mengikuti kegiatan warga, tetapi menjadi penghubung antar kelompok sosial. Saya bisa membantu meningkatkan literasi digital warga, misalnya dengan membuat panduan sederhana etika komunikasi di grup WhatsApp. Saya juga bisa mengajak remaja komplek untuk membuat kegiatan bersama, seperti turnamen badminton atau kelas seni kecil-kecilan, yang membuka ruang interaksi lintas kelompok. Keterlibatan aktif seperti ini menjadi cara konkret untuk merawat rasa persatuan di lingkungan paling dekat dengan saya.
Pada akhirnya, observasi ini menunjukkan bahwa integrasi nasional merupakan proses yang terus bergerak, bergantung pada kualitas interaksi masyarakat di level akar rumput. Dari praktik positif hingga potensi konflik, semuanya memberi pelajaran bahwa persatuan harus dirawat, bukan hanya dideklarasikan. Untuk meningkatkan kualitas integrasi di Komplek Melati, saya merekomendasikan dua hal: pertama, penyusunan panduan komunikasi digital warga untuk mencegah kesalahpahaman; kedua, pengadaan kegiatan kolaboratif antarwarga seperti “Hari Interaksi Komplek” yang melibatkan seluruh kelompok usia. Dengan langkah-langkah kecil tetapi konsisten, lingkungan ini dapat terus menjadi ruang yang harmonis dan inklusif.
Komentar
Posting Komentar