tugas mandiri 10
**Esai Reflektif
Wawasan Nusantara sebagai Strategi Nasional dalam Menghadapi Globalisasi dan Keberagaman Budaya**
Nama : Siti Aulia
NIM : 43125010203
Mata Kuliah : kewarganegaran
Pendahuluan
Wawasan Nusantara, atau Wasantara, merupakan cara pandang bangsa Indonesia terhadap diri dan lingkungannya berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 untuk mewujudkan persatuan dan kesatuan nasional dalam penyelenggaraan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Konsep ini tidak hanya memuat nilai geopolitik, tetapi juga mencerminkan identitas bangsa sebagai negara kepulauan yang multikultural. Di era globalisasi—yang ditandai oleh derasnya arus informasi, mobilitas ekonomi lintas negara, dan penetrasi budaya asing—relevansi Wawasan Nusantara sebagai pedoman nasional justru semakin kuat. Di sisi lain, Indonesia sebagai negara dengan keberagaman budaya yang sangat luas juga menghadapi tantangan internal dalam menjaga kohesi sosial.
Oleh karena itu, esai ini berargumen bahwa Wawasan Nusantara merupakan strategi vital bangsa Indonesia untuk menavigasi arus globalisasi tanpa kehilangan jati diri, sekaligus menjadi fondasi integrasi nasional yang mampu mengelola keberagaman budaya secara konstruktif. Melalui kajian kritis dan refleksi personal, esai ini akan membahas bagaimana Wawasan Nusantara berfungsi sebagai filter dalam globalisasi dan sebagai integrator dalam keberagaman.
Bagian I: Wawasan Nusantara dan Tantangan Globalisasi
Globalisasi sebagai Ancaman dan Peluang
Globalisasi membawa dua wajah bagi Indonesia. Di satu sisi, ia membuka peluang besar untuk perkembangan ekonomi, transfer teknologi, kemudahan akses informasi, dan interaksi global. Produk-produk internasional, gaya hidup global, dan teknologi digital makin mudah diterima masyarakat Indonesia. Namun, globalisasi juga menghadirkan ancaman serius terhadap identitas nasional, ideologi negara, dan ketahanan ekonomi. Nilai-nilai asing yang tidak selaras dengan Pancasila dapat mereduksi karakter nasional. Penetrasi budaya populer global (Korean Wave, Western lifestyle, dan lain-lain) kerap memengaruhi pola konsumsi dan cara pandang generasi muda. Dalam konteks ekonomi, kompetisi global menuntut Indonesia meningkatkan daya saing dan kemandirian.
Tantangan ini berpotensi melemahkan solidaritas, nasionalisme, dan kohesi ideologis jika tidak dikelola dengan baik. Karena itu, globalisasi perlu dipahami bukan hanya sebagai proses internasionalisasi, tetapi sebagai dinamika yang dapat memengaruhi struktur sosial, orientasi budaya, serta pola pikir masyarakat Indonesia.
Wawasan Nusantara sebagai Filter Strategis
Wawasan Nusantara hadir sebagai konsep yang mampu menyaring pengaruh global sekaligus mengoptimalkan peluang yang ada. Prinsip Kesatuan Politik dalam Wasantara menegaskan bahwa Indonesia harus tetap berdiri sebagai negara yang berdaulat di tengah arus global, dengan memperkuat stabilitas politik, ketahanan ideologi, dan kemandirian negara dalam menentukan arah kebijakan. Prinsip Kesatuan Ekonomi menekankan pentingnya pemerataan pembangunan, pemanfaatan sumber daya secara efektif, dan kemandirian ekonomi nasional. Hal ini sangat relevan di era perdagangan bebas, ketika negara-negara berlomba-lomba meningkatkan daya saing.
Dengan demikian, Wawasan Nusantara berfungsi sebagai filter—bukan penghalang—yang membantu Indonesia menerima unsur global yang bermanfaat tanpa mengorbankan identitas dan nilai-nilai nasional. Misalnya, penggunaan teknologi global untuk pembangunan nasional tetap harus didasarkan pada nilai Pancasila, moralitas, dan kepentingan nasional.
Refleksi Diri
Sebagai mahasiswa, saya melihat Wawasan Nusantara dapat menjadi pedoman dalam bersikap terhadap fenomena global. Contohnya, dalam konsumsi budaya luar seperti film, musik, atau fashion, Wawasan Nusantara mengingatkan bahwa keterbukaan harus disertai kesadaran akan identitas nasional. Mengikuti tren global bukanlah masalah, namun mempertahankan nilai gotong royong, kesopanan, dan etika sosial yang khas Indonesia adalah hal yang tidak boleh hilang. Pada level negara, penerapan Wawasan Nusantara dapat tercermin dalam kebijakan digital nasional, seperti pengembangan ekosistem ekonomi kreatif yang tetap memprioritaskan konten lokal dan memperkuat budaya Indonesia di era global.
Bagian II: Wawasan Nusantara dan Kekuatan Keberagaman Budaya
Keberagaman sebagai Realitas Bangsa
Indonesia dikenal sebagai bangsa yang Bhinneka Tunggal Ika—berbeda-beda tetapi tetap satu. Dengan lebih dari 700 bahasa daerah, ratusan suku bangsa, dan beragam agama, Indonesia adalah salah satu negara paling majemuk di dunia. Keberagaman ini merupakan sumber kekayaan budaya sekaligus potensi konflik jika tidak dikelola dengan bijak. Perbedaan identitas seringkali memicu gesekan sosial, terutama ketika tidak dibingkai dengan kesadaran kolektif tentang persatuan.
Wawasan Nusantara sebagai Integrator
Di sinilah Wawasan Nusantara memainkan peranan integratif melalui prinsip Kesatuan Sosial-Budaya. Prinsip ini menekankan bahwa seluruh elemen masyarakat Indonesia, yang berbeda latar belakang, harus tetap bersatu dalam semangat toleransi, saling menghormati, dan kebersamaan. Asas Wasantara—Solidaritas, Keadilan, dan Kepentingan yang Sama—membangun fondasi bagi terciptanya harmoni sosial.
-
Solidaritas mendorong masyarakat untuk saling mendukung tanpa memandang perbedaan suku atau agama.
-
Keadilan memastikan bahwa setiap kelompok budaya mendapatkan perlakuan yang setara dalam akses pembangunan, pendidikan, dan perlindungan hukum.
-
Kepentingan yang Sama mengikat seluruh warga dalam tujuan nasional, yaitu menjaga keutuhan NKRI.
Dengan memahami bahwa keberagaman bukan ancaman, tetapi kekuatan, Wawasan Nusantara menempatkan identitas kolektif sebagai prioritas yang menyatukan banyak warna budaya Indonesia.
Peran Mahasiswa sebagai Agen Perubahan
Mahasiswa memiliki peran strategis dalam mengaktualisasikan Wawasan Nusantara di lingkungan kampus dan masyarakat. Mahasiswa dapat:
-
mengembangkan sikap toleran dan menghargai perbedaan dalam interaksi akademik maupun sosial;
-
berpartisipasi dalam kegiatan lintas budaya yang memperkuat semangat kebangsaan;
-
menjadi penggerak penyebaran informasi positif mengenai keberagaman;
-
menolak segala bentuk ujaran kebencian dan stereotipe SARA;
-
serta menggunakan teknologi digital untuk memperkuat narasi persatuan.
Dengan mempraktikkan nilai-nilai Wasantara, mahasiswa dapat menjadi jembatan yang menjamin keberagaman tetap produktif dan harmonis.
Penutup
Secara keseluruhan, Wawasan Nusantara merupakan pedoman strategis bangsa Indonesia dalam menghadapi dua tantangan utama: globalisasi dan keberagaman budaya. Di satu sisi, globalisasi membawa ancaman terhadap identitas dan ideologi bangsa, namun juga menawarkan peluang untuk kemajuan. Wawasan Nusantara menyediakan filter nilai dan strategi nasional agar Indonesia dapat beradaptasi tanpa kehilangan jati diri. Di sisi lain, keberagaman budaya yang luas membutuhkan fondasi integratif agar tidak menjadi sumber perpecahan. Wawasan Nusantara, dengan prinsip kesatuan politik, ekonomi, dan sosial-budaya, menjadi instrumen yang memastikan keberagaman menguatkan, bukan melemahkan, bangsa.
Ke depan, penguatan implementasi Wawasan Nusantara harus terus dilakukan melalui pendidikan, kebijakan nasional, dan penguatan kesadaran masyarakat. Sebagai mahasiswa, saya berkomitmen untuk menjunjung nilai toleransi, solidaritas, dan persatuan dalam kehidupan sehari-hari, serta menjadi bagian dari generasi yang menjaga keharmonisan Indonesia yang majemuk.
Daftar Pustaka
Kementerian Pertahanan Republik Indonesia. (2014). Wawasan Nusantara dalam Kerangka NKRI.
Lemhannas RI. (2010). Konsepsi dan Implementasi Wawasan Nusantara.
Hidayat, A. (2020). Globalisasi dan Ketahanan Budaya Indonesia. Jurnal Ilmu Sosial dan Politik, 7(2), 115–128.
Komentar
Posting Komentar